Kita Hidup Serumah, Tapi Kapan Terakhir Kali Saling Memeluk?"

 "Kita Hidup Serumah, Tapi Kapan Terakhir Kali Saling Memeluk"


Parents, kita tidur di atap yang sama. Makan di meja yang sama. Bertemu setiap hari. Tapi coba tanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali kita saling memeluk, tanpa alasan khusus?


Bukan karena anak jatuh dan menangis. Bukan karena pasangan ulang tahun. Tapi pelukan yang muncul karena hati kita tergerak ingin menyampaikan bahwa aku ada di sini. Aku sayang kamu. Aku tak mau kehilanganmu.


Sering kali, yang membuat kita menjauh bukan jarak—melainkan kebiasaan. Kita terbiasa diam meski rindu. Kita terbiasa saling lihat tanpa benar-benar melihat. Kita terbiasa sibuk, lalu menganggap kehangatan bisa ditunda.


Padahal, pelukan yang tulus bisa jadi penawar dari luka yang tak kita lihat. Dalam pelukan, hati saling bicara. Dalam pelukan, anak merasa cukup. Pasangan merasa dilihat. Orang tua merasa dihargai. Dan kita pun kembali merasa hidup.


Seperti yang ditulis oleh Pak Cah di Kompasiana, pelukan bukan cuma aktivitas fisik. Ia adalah proses penyembuhan batin yang paling alami. 


Saat dua tubuh saling mendekap, hormon oksitosin, hormon yang disebut "hormon cinta" akan mengalir deras. Stres menurun. Kecemasan reda. Hubungan pun menghangat kembali.


Tapi mengapa pelukan jadi begitu jarang?


Mungkin karena kita menganggap rumah adalah tempat istirahat, bukan tempat untuk hadir sepenuhnya. 


Kita sibuk mencari kenyamanan di luar rumah, padahal yang paling membutuhkan sentuhan kita justru ada di dalam rumah.


Mari kita mulai lagi...

Peluk anak saat ia tak minta apa-apa. Peluk pasangan saat tak ada yang salah atau menyenangkan. Peluk orang tua meski hanya sebentar. Karena bisa jadi, pelukan kecil hari ini, menjadi kenangan terbesar di hari nanti.


Jangan tunggu momen besar untuk saling memeluk. Karena cinta tak butuh alasan besar, hanya butuh keberanian untuk hadir seutuhnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

D-Administrasi

NOTULEN KKKS Kec. Pacitan, 05-08-25