Keputusan berkualitas akan berdampak pada Kebajikan di masa depan .

             Keputusan berkualitas akan berdampak pada Kebajikan di masa depan, sebuah kajian lapangan  di SD Negeri Mentoro Pacitan. Tantangan dilema etika akan terus dihadapkan pada diri seorang pemimpin. Namun seorang pemimpin tetap harus mngambil keputusan dalam situasi apapun, baik dalam hal menyegerakan keputusan atau menunda karena masih ada jeda waktu. Dua pilihan atau lebih yang sama sama benar akan membingungkan pemimpin jika tidak mengetahui langkah tepat untuk mengikuti prosedur dan urutan SOP yang sudah ditentukan.

            Empat pradikma, tiga prinsip dan sembilan langkah perlu didalami sebagai seorang pemimpin sehingga mampu menghasilkan sebuah keputusan yang berkualitas. keputusan yang berkualitas menghadirkan absetabilitas yang baik dan berdampak positif bagi kebajikan di masa depan. 

            Implememtasi  Empat pradikma, tiga prinsip dan sembilan langkah di SD Negeri Mentoro telah lama dilakukan walupun belum lengkap sebagaimana pada teori. Namun seiring berjalnnya waktu dan pemahaman maka akan terus dilakukan dan diimplementasikan dan tidak lupa untuk selalu melakukan kegiatan refleksi supaya terus ada perbaikan dan perubahan.

            Dilema etika merupakan tantangan berat yang bakal ditemui dan harus dihadapi. Hal itu tentu sudah dialami oleh para guru selama menimba pengalaman di institusi pendidikan. Selain itu, akan ada juga dilema yang berkaitan dengan nilai-nilai kebaikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup. Secara umum, ada empat kategori paradigma yang ada dalam situasi dilematis itu.

  1. Individu lawan kelompok (individual vs community)

    Artinya, ada pertentangan antara individu melawan kelompok yang lebih dominan atau mayoritas dalam sebuah perkumpulan yang lebih besar itu.

  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

    Pilihannya adalah antara mengikuti aturan "hitam di atas putih" atau melanggar sepenuhnya.

  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

    Terkadang, dalam mengambil keputusan, kita harus memilih antara jujur atau setia kepada orang lain. Kejujuran dan kesetiaan ini acap menjadi pertentangan yang berat.

  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

    Paradigma ini sering dijumpai. Sering kita dihadapkan pada situasi antara mengambil keputusan jangka panjang atau jangka pendek .  Meski demikian seorang pemimpin akan terus maju dan berani menaggung resiko atas keputusan yang diambil. 

Dalam pengambilan keputusan, guru penggerak memiliki 3 prinsip yang dapat diambil meliputi Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Kendati demikian, penggunaan prinsip harus sesuai dengan nilai-nilai yang tertanam dalam setiap guru penggerak.

  1. Prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

    Prinsip Care-Based Thinking cocok digunakan para guru yang memiliki empati tinggi, rasa kasih sayang, dan kepedulian cenderung.

  2. Prinsip Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

    Prinsip Rule-Based Thinking cocok digunakan guru yang memiliki sikap jujur dan komitmen yang kuat untuk tunduk pada peraturan.

  3. Prinsip Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

    Prinsip Ends-Based Thinking cocok digunakan guru yang reflektif dan memiliki jiwa sosial tinggi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

D-Administrasi

NOTULEN KKKS Kec. Pacitan, 05-08-25