Menyelesaiakan Masalah Pembelajaran Melalui Metode Choaching Di SDN Mentoro
Perubahan paradikma berpikir dan bertindak guru sangat penting untuk selalu didinamisasi karena perubahan begitu cepat mengharuskan seorang guru meribah gaya komunikasi sesuai jamannya. Salah satu bentuk komunikasi seorang guru aadalah membawa ke arah perubahan pemikiran dan perubahan tindakan di Sekolah. Seorang Kepala Sekolah selalu memberikan arah perubahan dengan gaya yang elagan dan menyenangkan sehingga perubahan beerjakan cepat namun tetap mematuhi alur dan kenyamanan berkomunikasi.
Dalam modul guru penggerak yang diterbitkan oleh kemendikbudristek menyatakan: Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach (guru) memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (murid). Coaching merupakan salah satu alat untuk memaksimalkan potensi murid. Apabila proses coaching berjalan dengan baik, masalah pembelajaran yang dapat mengganggu proses pembelajaran dapat diatasi dan perkembangan potensi murid dapat dimaksimalkan dengan baik.
Tujuan coaching adalah menuntun coachee untuk menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki. Hubungan coach dengan coachee adalah kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan. Coach membantu coachee untuk lebih memahami situasi yang dihadapi, belajar dari dirinya, dan membuat keputusan.
Saat ini dalam implementasi kurikulum merdeka, dikembangkan salah satu model coaching yaitu model TIRTA. Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching dalam memfasilitasi peserta didik untuk mencapai tujuanya. Model TIRTA adalah satu model coaching yang bisa digunakan guru untuk memfasilitasi peserta didik dengan tahapan yang diakronimkan dengan kata TIRTA yang secara harfiah bermakna Air. Langkah yang dilakukan adalah merumuskan tujuan (T), mengidentifikasi (I), menyusun rencana aksi (R), dan Tanggung Jawab (TA). Semua keterampilan coaching ini diajarkan dalam program guru penggerak. Dengan harapan para guru penggerak ini akan menularkan kepada guru guru lainnya di sekolah tempat dia bertugas.
Sebagai seorang guru penggerak dan juga Kepala Sekolah yang telah menerapkan kurikulum merdeka dengan pendampingan dari kemendikbudristek dalam program sekolah pusat keunggulan, kami telah menerima pelatihan tentang menerapkan coaching sebagai satu model fasilitasi dalam mengembangkan potensi peserta didik yang beragam ( berdiferensiasi) melalui diklat komite pembelajaran kami dikenalkan dengan metode TIRTA. Begitu juga dalam modul pelatihan guru penggerak. Model ini kami coba gunakan dalam fasilitasi kepada peserta didik tetapi belum mampu secara optimal digunakan karena terbatasnya pemahaman tentang tehnik coaching di kalangan guru sebagai pendamping tumbuh kembang peserta didik.
Pemahaman tentang penerapan coaching dalam dunia pendidikan juga sudah mulai dikenalkan oleh Masyaraakt Coaching Indonesia (MCI) sejak tahun 2015. Sebuah komunitas yang berdiri dan menghimpun para coach profesional yang menerapkan coaching dalam dunia pendidikan. Sejak tahun 2021 menjalankan program CCFT ( Coaching Class For Teacher). Dengan program ini lahirlah para coach profesional dari kalangan “ GURU” dan praktisi pendidikan lainnya. Mereka tumbuh dan berkolaborasi dengan mempraktikan coaching dalam implementasi tugas pendampingan kepada peserta didik. Memandu peserta didik, rekan sejawat, orantua peserta didik untuk merumuskan tujuan, menyusun langkah dan menginvetarisasi dan mengoptimalkan sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Coaching sebagai sebuah proses fasilitasi dengan dasar membangun kesadaran diri ini kami percayai akan membuka dan memudahkan pola lain dan cara lain yang akan digunakan oleh para guru dalam mendidik peserta didik binaannya. Dengan kesadaran diri karakter akan mudah dibudayakan, dengan kesadaran diri kompetensi akan mudah dikuasai, dengan kesadaran diri hal apapun akan lebih mudah dan dengan kesadaran diri masalah pendidikan seberat dan serumit apapun akan bisa dicarikan langkah dan sumber daya untuk mengatasinya.
Coaching adalah sebuah solusi yang bisa digunakan oleh para “Guru” dalam memfasilitasi peserta didiknya. Coaching akan membuat seorang “Guru” terpanggil idealismenya untuk kembali mencapai “keterpenuhan hidupnya”, yang pada akhirnya membuat dia bangga dengan profesinya dan bahagia dengan jalan kehidupan yang dipilihnya.
Di Sekolah permasalahn pembelajaran semakin hari semakin komplek, seorang guru tentu membutuhkan orang lain dalam menyelelesaikan pembelajaran baik tahapo diskusi, atau sampai melibatkan dalam membentuk kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Inovasi pembelajaran memerlukan diskussi panjang dan semangat membara, maka choaching sebagai alat memberikan motivasi dari Kepala Sekolah dengan Guru, guru dengan teman sejawat,dan guru denganurid. Bahkan pada situasi tertentu pihak Sekolah dengan wali murid untuk mengondisikan situasi.
Komentar
Posting Komentar