KESIAPAN MENTAL BELAJAR SISWA PASCA DARING

 KESIAPAN MENTAL BELAJAR SISWA PASCA DARING


SUKATNO, S.Pd.MM.Pd

Kepala SD Negeri 2 Sedeng Kec. Pacitan

e-mail: putucarioc@gmail.com


Abstract

Pandemi covid-19 yang dihadapi Indonesia, menyebabkan pemerintah melakukan kebijakan pembatasan sosial, termasuk pembelajaran di sekolah maupun kampus. Para pelajar terpaksa u melakukan pembelajaran secara daring. Lamanya periode pembelajaran secara daring pun menimbulkan perubahan mental dan semangat belajar di kalangan pelajar. Sebagai bentuk adaptasi , para guru, siswa dan orang tua dituntut lebih terampil dalam penggunaan aplikasi pembelajaran, gawai, laptop dan media sosial. Sebagian besar para pendidik segera beradaptasi dengan dunia digital, tapi orang tua dan siswa cepat atau lambat juga akan segera mengikuti. Saat ini berbagai metode, aplikasi, konten sudah disusun sedemikian rupa, bahkan pada suasana sedang menikmati suasana virtual sebagai dunia baru yang mengasyikkan. Mencoba berbagai aplikasi tatap muka langsung virtual dengan saling melihat atau berbicara langsung dari jarak dan tempat yang berbeda, juga berkomunikasi dengan gambar,vidio, tulisan emotikon. Kita asyik dengan masyarakat baru di dunia maya ini, sampai kita mengenal lebih dekat kepribadian teman melalui virtual yang sangat berbeda dengan dunia nyata. Permasalahan muncul terhadap orang tua, mulai waktu orang tua mendampingi, miskinnya kompetensi orang tua terhadap psikologi dan pedagogik anak serta sederet masalah yang menyertai orangtua. Seiring dengan mulai dibuka kembali pembelajaran tatap muka Terbatas ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita besama agar Semangat belajar  kembali pulih merata disemua guru,siswa orang tua bahkan lingkungan masyarakat. Kesiapan tersebut adalah kesiapan Sekolah dengan manajemen baru, guru dengan mental penuh menyambut siswa dan sosialisasi ke orang tua dan masyarakat untuk bersama-sama menciptkan lingkungan kondusif pasca daring.

 Kata kunci : daring, mental belajar, pembelajaran tatap muka



Kesiapan berasal dari kata siap yang artinya sedia untuk melaksanakan suatu kegiatan. Kesiapan adalah suatu bentuk kesediaan siswa untuk melakukan sesuatu, sedangkan kesiapan mental belajar siswa adalah suatu kondisi kesediaan siswa secara psikologis untuk melaksanakan kegiatan belajar. Sebagaimana untuk mencapai hasil belajar yang diperlukan kesediaan kondisi seperti ini diperlukan adanya kapasitas kondisi fisik dan mental yang baik agar terjadi kesiapan belajar dalam proses pembelajaran. Kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons atau jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu situasi.Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2013), 113.

Dalam pengertian di atas yang dimaksud kesiapan tersebut mencakup dari seluruh kemampuan atau kesediaan yang ada didalam individu baik jasmani maupun rohani untuk memberi respons atau reaksi dimana kemampuan tersebut dapat dikembangkan. Sehingga membuatnya individu yakin dan siap ketika pembelajaran berlangsung. Kesiapan dapat juga diartikan sebagai totalitas siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Kesiapan mental pasca pandemi adalah kesediaan siswa dalam menerima respon proses pembelajaran setelah berada pada situasi yang tidak normal dalam kurun waktu tertentu. Masa belajar dari rumah yang cukup panjang dengan munculnya berbagai permasalahan. Kesiapan perangkat ,mental siswa, kemmapuan dan kesempatan orang tua

Halaman 2 dari 5


Halaman 2 dari 5


untuk pendampingan adalah persoalan yang rumit dan belum terpecahkan sampai kini. Kalau ada yang menyatakan Belajar dari rumah efektif mungkin karena target kurikulum yang disederhanakan. Tetapi banyak hal yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan pertemuan nyata. Situasi ini dapat dimaklumi semua pihak karena memang berada dalam suasana pandemi yang harus berperan aktif menjaga dan mematuhi protokol kesehatan demi keselamatan bersama.

Saya akan mencoba mengawali tulisan ini, dengan beberapa pertanyaan renungan. Mungkinkah kehadiran guru tergantikan dengan gawai, links, vidio dan peralatan/aplikasi yang lain? mungkinkan aspek sikap dan keterampilan bisa di sampaikan dalam BDR/PJJ? bagaimana menanamkan pendidikan karakter di masa pandemi?

Pertanyaan di atas tidak perlu kita jawab, karena kita sedang berjuang keras menemukan formula jawaban dalam kegiatan nyata di lapangan. semua serba mungkin kita perlu mencoba mencoba multi metode, aplikasi, strategi dalam melaksanakan belajar dari Rumah. Koordinasi dan pemberian rambu rambu kepada orang tua dalam pendampingan di rumah juga perlu diberikan secara terus menerus agar sinergi guru dan orang tua berjalan dalam penanaman pndidikan karakter. 

Kita juga menyadari kondisi orang tua sangat sibuk dan menghadapi kesulitan beragam, kondisi psikologis mereka sangat rentan jika kita tambah beban peadagogik kepada mereka. Yang terjadi adalah yang penting intruksi tugas dari guru segera diselesaikan dengan cepat dan tidak mengganggu aktivitas orang tua. hal ini kita maklumi karena orang tua dalam kondisi serba sulit dan tidak memahami peadagogik. Mereka bisa melakukan dan menjawab yang diperintah dari guru anaknya tetapi mereka tidak memiliki kemampuan mengajarkanya dengan runtut mulai penanaman konsep hingga anak menemukan. Sehingga mimpi jika orang tua mampu membimbing anak dengan pendekatan saintifik dalam sebuah pembelajaran. Dalam kondisi ektrim orang tua mencari praktisnya dengan memberikan jawaban da bahkan yang mengerjakanya. waduh terus piye...? lawong mumet dan stress kulo pak guru? makanya guru juga bingung semua tugas kok selesai dengan jawaban yang baik. Bagi siswa yang bisa mandiri jawaban atas tugas guru tersedia banyak di internet.

Kembali ke pendidikan karakter, pada kondisi normal penanaman karakter sudah dimulai dari bangun tidur, disiplin waktu, tertib di rumah, disiplin dan tertib di sekolah, dengan berangkat sebelum pukul 07.00. melatih mandiri dengan piket harian,  Upacara hari senin, berbaris rapi sebelum masuk, berdoa , membaca ikrar, disiplin mematuhi tata tertib sekolah, menghargai guru, berinteraksi sosial dengan teman, keteladan nyata dari guru, dan masih banyak lagi. 

Bagaimana suasana penanaman pendidikan karakter ini kita bawa dalam BDR. Keluan orang tua tentang  anaknya susah diatur, tidak disiplin, susah dinasihati, semangat belajar turun, dan kegiatan anak yang tidak teratur serta banyak keluan lainya yang tidak bisa semua diurai dalam tulisan singkat ini.

Sehingga target BDR bukan sekedar out put tugas terselasaikan tetapi ada nilai pendekatan pembelajaran yang ramah anak dan orang tua, ada penanaman karakter dan pendidikan keterampilan. semua akan tecapai jika kita menemukan formula yang bisa

Halaman 3 dari 5


Halaman 3 dari 5


dipahami dan dilaksanakan, siswa, orangtua dan guru. Formula yang bagaimana mari terus uji coba formula sampai menemukan yang tepat.  Saling berbagi antar guru dan sekolah tentang efektifitas BDR mari terus kita lakukan tiada henti.


 Situasi ini tentu sangat mempengaruhi pola pikir, kebiasaan dan mental siswa. Kebosanan berkepanjangan telah membawa mereka seolah berada di alam mimpi bertemu di rumah besar baru yang asing dan aneh. Ruang belajar yang luas dan panjang harus berganti dengan ruang sempit dan terbatas dan harus berselancar di alam bebas dunia internet. Semua ini akan mempengaruhi mental, semangat dan tingkah laku siswa yaitu situasi mental beajar yang rumit dan aneh.

Yang kita kwatirkan adalah siswa lama kelamaan merasa nyaman dalam situasi belajar dari rumah yang menurut mereka malah enak, mudah dan tidak terikat. Hal ini dapat kita lihat ketika pengumuman pembukaan kembali sekolah siswa tidak antusias. Bahkan penulis menemukan sendiri kondisi beratnya para wali kelas memulihkan situasi kelasnya pasca daringg. Tiap hari ada saja bukti ketidaksiapan siswa mulai jadwal, jam berangkat, daya tangkap dan serap dalam pembelajaran. Maka diperlukan diskusi sistim baru dalam mengelola sekolah pasca pandemi, khususnya sisi kesiapan mental belajar siswa pasca daring.

Seiring dengan mulai dibuka kembali pembelajaran tatap muka Terbatas , ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita besama agar Semangat belajar  kembali pulih merata disemua guru,siswa orang tua bahkan lingkungan masyarakat.

Pertama, kesiapan mental belajar peserta Didik.  Kegembiraan siswa , orang tua dan Guru ketika mulai dibuka kembali pembelajaran tatap muka adalah wajar karena satu setengah tahun belajar dari rumah dengan berbagai kelemahan dan kelebihannya. beberapa hambatan pembelajaran daring adalah Bagi siswa dan guru yang tinggal di daerah minim infrastruktur internet sudah tentu akan mengalami kesulitan dalam melakukan pembelajaran daring. Siswa dengan tingkat ekonomi keluarga kurang mampu mengalami kesulitan dalam kepemilikan gawai, laptop atau komputer dan pembelian kuota. Menyertai hambatan itu juga kemampuan guru, orang tua dan siswa dalam penguasaan berbagai aplikasi daring. Pemahaman terhadap materi menjadi berkurang. Siswa tidak bisa secara langsung bertanya kepada guru terhadap materi yang belum dikuasai. Begitu pun sebaliknya, guru tidak bisa secara langsung mengecek pemahaman siswa. Berkurangnya interaksi antara siswa dan guru. Pembelajaran daring mengakibatkan berkurangnya interaksi secara langsung antara guru dan siswa dan sebaliknya.Pengawasan guru dalam proses pembelajaran terhadap siswa menjadi berkurang. Pembelajaran daring dibatasi oleh jarak, maka guru tidak bisa secara langsung dalam mengawasi pembelajaran siswa. Guru kesulitan dalam melakukan penilaian proses. Kesungguhan, kedisiplinan, kerjasama, kejujuran dan aspek lainnya sulit dilakukan penilaiannya. 

Halaman 4 dari 5


Halaman 4 dari 5


Kedua, kesiapan Guru, Selain siswa kesiapan guru, walaupun  selama ini dengan pembelajaran daring guru juga super sibuk, merencanakan menyusun perangkat pembelajaran, mempelajari  berbagai aplikasi membuat konten yang menyita waktu bahkan layanan guru dalam pembelajaran daring bisa 24 jam. Memulai pembelajaran tatap muka terbatas diperlukan banyak perubahan. Perubahana waktu yang  dengan kesiapan di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB. Melekat di dalamya kesiapan mandi sarapan dan kesiapan di rumah ketika ditinggalkan,  berbeda dengan pembelajaran daring dengan waktu yang sangat fleksible memuat didalamya tanpa persiapan rijit di atas. Kesiapan mental guru yang terbiasa dengan pembelajaran daring dengan waktu dan gaya fleksible perlu adaptasi segera dengan pola disiplin waktu dan persiapan fisik. Segera tinggalkan daster dan celana pendek kembali berseragam dengan penuh percaya diri menyambut siswa seolah menyambut suadara yang lama merantau rindu, ingin bercengkrama, bercanda , membimbing dan mengarahkan.

Ketiga, kesiapan orang tua bisa lebih heboh. "Pusing pak guru seragam anak-anak sudah tidak cukup semua ". semua bisa dimaklumi belajar di rumah sedikit banyak tetap mengurangi porsi aktivitas fisik para siswa sedangkan kesedian menu makanan lebih mudah anak menjangkau karena berada di rumah. Selain itu orang tua juga heboh dengan kebiasaan baru membangunkan lebih awal anaknya dan satu lagi yang rumit dan memusingkan menu sarapan harus siap sedia lebih pagi, menyiapkan alat tulis dan mengantarkan ke sekolah.

Keempat,  kesiapan sekolah harus tertata dengan baik agar layanan kepada siswa betul betul mennyenangkan dan memuaskan. Perencanaan kurikulumnya, kesiapan fisik berupa kebersihan, keindahan dan kenyamanan dan kesiapan Protokol kesehatan sebagaimana pada daftar periksa harus seratus persen lengkap. Seperangkat peraturan baru bagi siswa dalam pembelajaran tatap muka mulai alur berangkat samapai pulang lagi disiapkan dan disosialisasikan kepada siswa, orang tua dan masyarakat. Mari kita sambut pembelajaraan tatap muka dengan gembira namun tetap sangat hati hati dan selalu menegakkan protokol kesehatan yang ketat. Semoga pandemi segera berakhir  aamiin.

Untuk memberikan pelayanan maksimal dan memberikan rasa nyaman secara psikologis kepada siswa diperlukan peran semua pihak, Sekolah didalamya ada lingkungan sekolah, guru dan sistem , orang tua yang memberikan dukungan fasilitas psikologis dan motivasi kepada siswa secara terus menerus. Jika usaha ini dilakukan kita yakin siswa akan segera pulih kembali seperti sebelum pandemi bahkan bisa menghasilkan lompatan positif dari pembelajaran daring. Mari kita terus berjuang memberikan kenyamanan secara fisik dan mental kepada siswa untuk pendidikan kita yang lebih baik maju dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Simpulan dari uraian di atas adalah kesiapan mental siswa dalam mengikuti pembukaan kembali pembelajaran tatap muka dapat dipulihkan kembali dengan menyiapakan perangkat internal siswa dengan menguatkan dan memberikan lingkungan

Halaman 5 dari 5


Halaman 5 dari 5


yang kondusif serta bertahap. Faktor ekternal terkait regulasi,orang tua , sekolah dan lingkungan pada umumnya semua memberikan rasa nyaman kepada siswa untuk kembali belajar. Saran penulis semua steakholder harus berperan dalam upaya pemulihan mental belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan segala kelemahan dan kelebihannnya.

            Metode dan media pembelajaran pasca daring masih banyak yang relevan bahkan sangat adapatif dengan perkembangan saat ini. Artinya guru harus tetap memnafaatkan media dan metode daring dalam pembelajran luring. Karena hakikatnya siswa tidak bisa dipisahkan dari alat daring yang selalu menyertai dua puluh empat jam dalam hidupnya. 

      Beberapa platform tekomended untuk dijadikan strategi pembelajaran misalnya google form, GC , You tube dan lain lain. Guru mengajar tatap muka tapi memberikan tugas atau aktifitas yang harus dilakukan dengan daring dengan waktu yang fleksible, Ukangan, formatif dan sumatif dapat dilakukan dengan menggunakan platform digital, tentu sangat efisien karena menghemat ribuan lembar kertas. 

              Pengarsipan data dan administrasi sekolah akan aman dan tidak membertkan dpat dilakukan dengan platform digital juga, sehingga sekolah tetap mempunyai data dan administrasi lengkap tanpa menggunakan ruang nyata yang banyak. 

              Perilaku digital ini akan membentuk karakter anak kreatif dan inofatif. Selalu ada cara dan akal menyelesaikan masalah kehidupan dengan cara digital. Kesibukan di digital positif akan membentuk karakter anak  mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka akan menjadi subyek tekhnologi bukan sekedar obyek yang dimanfaatkan orang lain. Dalam jangka panjang akan mendidik mereka menghasilkan sesuatu dari alat digital.  Mereka bisa menjadi masyarakat dunia yang mempunyai daya saing yang kuat dalam hal pemenfaatan platform digital. 

               Akhirnya semoga kita semua selalu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa kecil maupun besar dalam kehidupan, mentranfer energi positif untuk anak bangsa karena mereka yang akan menjadi pewaris negeri ini.








Daftar Pustaka



Agus Suprijono,2015. Cooperative Learning, Yogyakarta: Pustaka Belajar,


Djali, 2015. Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Bumi Aksara

http://repository.uinbanten.ac.id/3233/4/BAB%20II.pdf


https://sukatnobaleharjo.blogspot.com/2021/09/pulihkan-semangat-belajar-pasca-daring.html


https://www.blogger.com/u/0/blog/post/edit/5569350100528887012/5313171360137936824

Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Dan Mengajar, (Jakarta: PT

Bumi Aksara, 2013


Sukamdinatann, R.L. 2007. Pengembangan Kurikulum Bandung : PT. Remaja Rosda

Karya.


Slameto, 2013. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi, (Jakarta: PT Rineka

Cipta, 2013)

https://www.blogger.com/u/0/blog/post/edit/5569350100528887012/5313171360137936824


Komentar

Postingan populer dari blog ini

D-Administrasi

NOTULEN KKKS Kec. Pacitan, 05-08-25