Watak Manusia Tidak Bisa Netral
Menyemai Karakter Bagai Menanam Pohon Jati
Saya memulai dengan kata menyemai, agar kita menyadari bahwa start mesti sedini mungkin. Mendidik sejak dini bagian dari proses panjang hakikat pendidikan. Anak itu seperti tanah bila ditanami bunga, rumput akan ikut tumbuh, jika dibiarkan akan penuh dengan rerumputan. Kita mesti menyadari bahwa kesabaran seorang petani yang menanam padi mulai menyiapkan lahan yang bagus dan kondusif dengan tanaman padi. Proses menyiakan lahan untuk tanaman ini juga dilakukan dengan ikhlas agar padi bisa tumbuh dengan sempurna. Sembari menyiapkan lahan biasnnya menyemai benih padi sebagai embrio tanaman. Sebagai bentuk pembuktian kegigihan para petani adalah merawat penyemaian setiap hari mulai kadar pupuk, kadar air dan makluk hidup pengganggu yang mesti dibersihkan. Tiba tiga puluh sampai empat puluh hari persemaian siap dipindahkan ke lahat sawah yang telah disiapkan. Padi yang sudah ditanam tidak dibiarkan saja, tetapi setiap hari ada proses yang sama memelihara kadar kesuburan, air dan makhluk hidup pengganggu. setiap hari harus melihat dan bisa jadi sibuk seharian di sawah. Kebagiaan melihat hijaunnya tanaman padi sampai proses menguning dan memanen setelah umur empat bulan adalah ujian kesabaran para petani. Semua dilakukan dengan senang hati tanpa gerutu.
Lebih menyita kesabaran lagi jika menanam pohon jati yang bisa sampai dua puluh lima atau lebih untuk menghasilkan pohin jati yang bagus dan kuat. Inilah gambaran bagaimana menyemai karakter ke anak proses yang panjang dan memerlukan kesabaran ekstra bahkan ekstrim. Sebagaimana watak manusia itu tidak bisa netral. Manusia akan tumbuh kembang bersama energi terbesar yang mempengaruhi dirinya, jika lebih banyak yang memberi energi positif maka yang ada pada karakter asasinya adalah kebaikan, demikian juga sebaliknya.
Sangat wajar jika kita menyemai karakter anak ini sedini mungkin bahkan sejak proses di dalam kandungan. Meski anak belum sampai kemampuan sebenarnya namun pendidikan karakter wajib dimulai. Sebagaiman kata - kata bijak Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, sedang belajar ketika dewasa bagaikan mengukir di atas air. Orang barat berkata, see-monkey do. Kita biasa melihat ada atlit sepak bolamembelikan mainan bola sejak bayi mereka mengatakan pengkaderan. Sebenarnya mereka sedang menyemai sebuah ide endap sejak dini agar anak menyatu dengan bola. Ada artis penyanyi yang sejak bayi sudah dibelikan mainan musik, bahkan masih kecil sudah lengkap semua alat musik lengkap dengan mentor dan manajer latihannnya.
Bagaimana dengan karakter yang kita semai, tentu sejak dini sebagaimana gambaran proses di atas. Menanamkan Karakter adalah proses mengendapkan sebuah tindakan agar melekat ke jiwa anak. karakter disiplin dimulai dari bayi, dari hal yang sangat sederhana menuju sebuah proses yang lebih komplek. Membuang sampah saja jika tidak pernah diajarkan maka dia akan membuangnya sembarangan walaupun tempat sampah ada di dekatnya, sebaliknya jika sudah tertanam dalam diri anak walaupun tidakada tempat sampah dia akan simpan sampah itu sampai ketemu tempat pembuangan sampah. Sampah mengundang sampah, artinya jika disekitar anak banyak berserakan sampah sementara karakter belum terinternalisasi maka anak akan membuang sampah di dekat berserakannya sampah.
Proses penanaman karakter yang sangat panjang sangat mungkin membuat kita tidak sabar, kita ingin merubah karakter anak dalam waktu yang singkat. sangat tidak mungkin, misalnya hari ini kita memberkan nasihat kita berharap segera berubah di hari itu, padahal seandainya berubah benarpun itu belum terinternal dalam dirinya, bisa saja ketika kita tidak ada maka anak akan kembali ke karakter sebelumnya. Jangan berharap karakter itu akan tertanam cepat, mungkin kita sedang menjalani proses panjang, yang kita tananamkan sekarang bisa jadi satu tahun lagi baru kelihatan, atau dua tahun bahkan sepuluh tahun anak baru mau berubah. Bukankah kita sering menyesal, seandainya saya dulu taat dengan nasihat orang tua tentu sudah begini begitu. Benar ternyata ya.... nasihat guru kita dulu. Itu baru tumbuh kesadaran, bulum tertanam ke jiwa anak. Anak akan berubah lagi jika bertemu dengan lingkungan yang terkontaminasi dan mendorong ke karakter sebelumnya.
Hal sangat penting yang kita perhatikan berikutnya dalam penanaman karakter adalah energi negatif yang mempengaruhi jiwa manusia. Sebagaimana ketika menanam padi tidak mungkin tidak tumbuh suket teki atau suket lainnya. Setiap tanaman juga ada hama yang mengancam gagal panen, ada faktor alam atau kejadian di luar jangkauan manusia. Maka yang jauh lebih penting adalah bagaiman anak disuntik imun agar berani memilih dan membuat keputusan untuk tidak melakukan karakter negatif. Kemampuan anak agar tidak terpengaruh dengan energi negatif itu adalah bagian dari proses yang dibersamakan dalam penanaman karakter ke anak.
Kita juga jangan kaget kadang sudah menanam bagus berbulan bulan bahkan bertahun tahun tiba tiba pengearuh negatif datang dalam waktu singkat rusaklah bangunan karakter yang bertahun-tahun kita tanam. Sebagaimana tanaman padi yang sangat bagus tumbuh subur ketika menguning dengan buah lebat dan berisa dalam waktu semalam rusak karena serombongan hama tikus, wereng dan babi hutan datang.
Hal diluar kemampuan manusia datang misalnya bencana alam juga bisa menghancurkan tanaman kita hingga nol panen. Inilah kekuatan Doa dan keteladanan , bagi para pendidik guru orang tua dan masyarakat teruslah berdoa kepada Allah SWT, agar hal yang di luar jangkauan tadi tetap dalam kerangka kebaikan dan keberkahan hidup kita.
Semoga pandemi segera berakhir agar tananam karakter yang sedang kita semai tidak rusak atau hilang dari diri anak anak kita. Tetap sumangat Jaga Iman dan Imun kita songsong kebiasaan hidup baru yang lebih baik. Biasakan kita menerima dan adaptasi dengan perubahan karena perubahan tidak pernah akan berubah. (Sedeng, 02-12-2020)
Komentar
Posting Komentar