HOME VISIT VERSI C-19

HEBOH HOME VISIT,  Beberapa minggu terakhir menjadi perbincangan masyarakat tentang " home Visit" ,atau Kunjungan Rumah istilah yang dulu hanya dipahami oleh kalangan pendidik  . Hari-hari ini home visit bagi orang tua dan siswa menjadi istilah yang sangat familiar. Namun Demikian perlu kita dudukkan persoalannya agar home visit tidak bermakna salah. kalau mengalami perluasan makna tidak masalah karena bahasa juga sangat adaftif dengan istilah-istilah baru. Bagi para Pendidik istilah ini bukan baru lagi karena sudah dilakukan cukup lama seusia  pendidikan itu sendiri berlangsung. 
                
Home visit merupakan pilihan pendidik memecahkan kesulitan belajar siswa dan merupakan tindakan preventif sebelum ada masalah pada diri siswa dan juga memecahkan masalah yang sudah terjadi yang memerlukan privasi penyelesaian. Dalam dunia pendidikan  Home visit mempunyai beberapa maksud antara lain: pertama untuk mengumpulkan data terkait pelayanan pribadi kepada  siswa. Kedua, untuk Menggali dan memecahkan permasalahan siswa yang mengalami kesulitan belajar.


Home visit merupakan salah satu Bagian layanan total terhadap siswa dalam hal kegiatan bimbingan dan konseling. Kegiatan dalam kunjungan rumah dapat berbentuk pengamatan dan wawancara, terutama tentang kondisi lingkungan rumah , fasilitas belajar, dan hubungan antar anggota keluarga dan bisa meluas ke hubungan dengan tetangga dalam kaitannya dengan permasalahan siswa.

Home visit perlu dilakukan dalam rangka membantu menangani masalah siswa walaupun tidak berlaku untuk seluruh siswa. Maksudnya, hanya siswa tertentu yang menurut perkiraan guru pembimbing perlu dilakukan kunjungan rumah, mengingat pemecahan masalah hanya dapat diselesaikan bila ada kontak dengan orang tua atau diperkirakan masalahnya bersumber dari lingkungan keluarga. Pertimbangan diperlukannya kunjungan rumah,menurut Indah Perdana Sari, M.Pd. dari Universitas Alma Ata Yogyakarta sebagai berikut: (1) Jika permasalahan yang dihadapi siswa ada sangkutpautnya dengan masalah keluarga; (2) Keluarga sebagai salah satu sumber data yang dapat dipercaya tentang keadaan siswa; (3) Dalam kegiatan bimbingan diperlukan kerjasama antara guru pembimbing dengan orang tua; (4) Faktor situasi keluarga memegang peranan penting terhadap perkembangan dan kesejahteraan anak. 

Masa pandemi covid-19 megakibatkan kejenuhan berkepanjangan bagi siswa, dunia anak yang biasa berinteraksi dengan teman - teman di sekolah bermain, belajar dan berhubungan sosial berubah di ranah dunia maya yang benar benar mengagetkan semua pihak.  Home Visit hadir sebagai solusi ditengah pandami seolah oase di padang pasir yang tiada tepi. Tentu banyak persoalan tidak bisa diselesaikan secara daring, mulai dari kesulitan belajar, turunya motivasi belajar, semangat menyambut hari hari yang kian tidak jelas menurut pandangan siswa. Peran guru tidak bisa tergantikan dengan perangkat tehnologi secanggih apapun. Persoalan kedua adalah orang tua yang tidak bisa mendampingi secara kompetensi maupun waktu bagi anaknya. Yang bisa mendampingipun harus dihadapkan persoalan kuota dan yang lebih prinsip lagi adalah pemahaman pedagogik orang tua. Orang tua kalau seandainya memahami materi palajaran anaknya mereka tidak mempunyai kemampuan memberikan materi tersebut sesuai ranah berpikir anak. Apalagi sampai ranah pendekatan saintifik yang di kalangan pendidik saja perlu berminggu-minggu diklat dan berbulan bulan Praktik. Huppp sampai disini saja diskusi kita tentang ini mari kembali ke home visit versi pandemi.

Home visit Versi Covid-19 bagi  pendidik sebagai terobosan rumitnya persoalan yang dihadapi guru dan siswa dalam masa Belajar dari Rumah (BDR) Namun protokol kesehatan harus sangat ketat, kepatuhan terhadap regulasi dan ketentuan pencegahan Covid-19. Bagi pendidik di masa pandemi sebagai wujud Totalitas dedikasinya terhadap kelangsungan pendidikan siswanya. Jika ini pilihan yang sering dilakukan di masa pandemi perlu standart operasional prosedur yang harus dilakukan. 

Kehadiran pendidik bertemu siswanya di masa pandemi bukan sekedar menyelesaikan permasalahan belajar yang tidak bisa dipecahkan lewat daring tetapi mempunyai tujuan : sebagai Peran motivator yaitu kehadiran yang mampu memberikan semangat balajar dan tetap belajaar. kedua membimbing dan menuntun dengan cara memberikan arahan hidup, sehat ketrampilan hidup, memecahkan persoalan pembelajaran. ketiga mengarahkan siswa dan orang tua mempunyai tanggung jawab menjaga lingkungan keluarga dan masyarakat agar ideal, baik dalam bentuk pribadi santun maupun dalam ketaatan beribadah kepada TAllah SWT. . Disamping itu, orang tua juga harus bersinergi dengan Pendidik  dengan cara turut serta memantau, mengevaluasi dan memberikan masukan positif terhadap pembelajaran di masa pandemi

Peran Home Visit dengan melibatkan  masyarakat  tetap memantau setiap pribadi anak, dan mendiskusikan dengan orang tua. Apabila menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat, tokoh masyarakat dan pimpinan pemerintah setempat.  Masukan dari orang tua dan masyarakat untuk layanan pendidikan di masa pandemi terus digali dan pendidik terus berupaya multi strategi agar pendidikan tetap berlangsung walaupun Belajar dari Rumah. Ayoo tetap semangat, tetap kreatif , tetap bersinergi untuk produktif dan edukatif di masa  pandemi.  (Sedeng, 8 agustus 2020)

Komentar

  1. Saya sangat setuju dengan adanya home visit dimasa B DR ini, selama protokol kesehatan selalu terjaga.

    BalasHapus
  2. Sangat setuju agar siswa dan orang tua lebih memahami bahaya covid 19 salah satunya belajar dari rumah kombinasi home visit.

    BalasHapus
  3. Yupz.... Lihat sikon daerah saja Kang.,, Selamat n Sukses Kang...!!?

    BalasHapus
  4. Yupz.... Lihat sikon daerah saja Kang.,, Selamat n Sukses Kang...!!?

    BalasHapus
  5. Mantuulll mengenal lebih dekat siswa dan ortu 👍👍

    BalasHapus
  6. Pengalamanku tambah berat badan....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

D-Administrasi

NOTULEN KKKS Kec. Pacitan, 05-08-25