Menikmati Pekerjaan

MENIKMATI PROFESI GURU

                                                                      (SUKATNO,S.Pd)

                                                 GURU SDN SAMBONG I KEC.PACITAN

              

               Perjalanan menuju tempat tugas yang berkelok-kelok dan mendaki melelahkan, di sebuah desa paling terpencil di Kecamatan Pacitan. Sekolah dasar yang berada di balik gunung yang menutupi pandangan kita ketika berada di alun-alun kota Pacitan. Untuk bisa mengkondisikan hati agar tetap Ikhlas dan menyenangkan tentu harus selalu menghadirkan nilai-nilai spiritual. Rasa syukur yang terus terucap dengan mulut kita tentu harus diiringi produktivitas kerja yang terus dinamis. Itulah Syukur yang sebenarnya.

               Sepeda motor saya yang selalu melawati empat jenis jalan yaitu jalan aspal yang mulus jalur Pacitan Ponorogo, jalan aspal desa yang sudah berlubang-lubang dimakan usia dan kualitas, selanjutnya melewati jalan macadam yang sudah porak poranda karena dilewati berbagai macam kendaraan termasuk truk-truk, selanjutnya perjalananku berakir dengan jalan tanah.Bukan itu yang ingin saya bahas disini namun renungan saya di tengah perjalanan.

 Tiap hari saya menemui berbagai macam manusia dengan berbagai jenis pekerjaan mereka sesuai dengan empat jenis jalan tadi, ketika menempuh jalan beraspal bermacam-macam manusia dan pekerjaannya.Ada yang pegawai, pedagang, karyawan, pegawai swasta. Ketikan berakir jalan beraspal masuklah ke jalan aspal desa kulihat di sepanjang sungai banyak orang yanag bekerja sebagai pemecah batu. Mereka memikul batu ke dekat rumaha agar tidak panas, entah berapa hari mereka harus mengumpulkan kerikil agar bisa ditukar menjadi uang. Lalu berapa penghasilan mereka sehari? Tetapi mereka tetap berbahagia mungkin kebutuhan mereka juga terbatas, tidak ingin sepeda motor tidak ingin mobil dan kebutuhan besar lainnya. Mereka saya yakin juga ingin barang-barang itu tapi mimpi merreka segera terputus oleh keadaa. Rasa syukur kembali menmgalir ke dadaku.

Melaju beberapa meter ada sekelompok pekerja kayu yang berada di tempat yang panas, mereka bekerja dengan upah Rp. 20.000,- /hari. Itupun harus kerja mulai pukul 6 pagi sampai 4 sore. Saya kembali bersyukur. Lain lagi dengan yang satu ini tentu lebih memilukan lagi, saya bertemu dan kadang sengaja saya bonceng. Penjual arang yang mempunyai jasa besar kepada kita karena kita bisa makan sate enak karena dibakar di atas arang. Pernahkah kita merenung bahwa penjual arang itu harus berhari-hari untuk mendapatkan satu pikul arang yang hanya laku dijual Rp. 30.000,-.Mereka harus berjalan kaki sekitar 20 km pulang pergi sambil memikul arang.Kadang mereka berangkat jam 4 pagi dan jam 7 pagi sudah kembali ke rumahnya.saya yakin mereka bukan tidak mau untuk mengangkut arangnya dengan angkutan mobil, yang memang ada pada hari-hari tertentu,tetapi alas an yang kuat adalah agar hasil jualan arangnnya tidak berkurang.

Mereka pun bisa berbahagia karena bahagia bukan berada di tempat yang mewah dan kebutuhan serba tercukupi, tetapi bahagia ada din setiap orang yang menjadikan hatinya selalu ridha dan ikhlas atas pemberian-Nya. Tidur mereka juga nyenyak walaupun beralas alas tikar kusut. Karena Memang nikmat tidur itu diberikan keapada siapa saja. Bukankah kita sering tidak bisa tidur walaupun di kasur busa yang empuk walaupun mungkin lewat meengkridit?  Bukankah mereka juga sangat lezat ketika makan walaupun yang dimakan berangkali hanya nasi dan sayur seadanya? Karena memang nikmatnya makan itu diberikan kepada siapa saja.

Di sekitar jalan macadam dan jalan tanah yang mendekati sekolah tempat saya bertugas. Masih banyak lagi renungan yang akan membuat kita banyak bersyukur. Kebanyakan penduduk yang bekerja di sector pertanian sebagai Petani atau pasnya mungkin buruh tani. Penghasilan lebih tidak jelas lagi tapi mereka yakin mereka bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Tenaga kerja tidak mereka hitung. Hasil panen dengan pupuk yang langkja dan mahal obat hama yang juga mahal tidak bisa tertutupi oleh hasil panenya. Tetapi sekali lagi mereka tetap berbahagia.

Bandingkan kita sebagai pegawai negeri misalnya seorang guru, kadang saya merenung berangkali pemerintah sudah terlalu besar menggaji para guru. Kalau kita hitung kita bekerja dengan rata-rata 25 hari, dikurangi hari minggu. Kita sudah bisa menghitung penghasilan harian kita sudah lebih dari Rp.100.000,-.Bukankah itu besar dibanding yang saya ceritakan di atas,Apalagi kalu ditambah tunjangan profesi tentu angka penghasilan harian kita lebih fantastis lagi. Lepas dari cara berpikir kita bahwa “kita kan sekolah tinggi dengan biaya yang tidak sedikit” .Ya memang karena profesionalisme selalu diukur dengan imbalan yang besar pula. Apakah kita Profesional? Atau kita hanya sekedar menjalankan kewajiban saja tanpa dinamika produktivita?

Saya hanya mengajak merenung mari kita bersyukur mengapa gaji besar kita kadang tidak jelas manjemennya ( Tidak temanja kata orang jawa). Ada yang habis sebelum tanggal muda datang, bahkan ada yang habis setelah terima gaji karena tanggal tua berutang tanggal muda mengembalikan dan kejadian dan hal itu terus menerus terjadi,atau ada yang terjebak hutang hingga gaji minus. Bukankah yang saya ceritakan di atas tidak pernah mengalami seperti kita. Mengapa?

Mungkinkah rizki kita tidak berkah? Mungkinkah Jumlah nominal gaji kita itu tidak semuanya milik kita? Memang jumlah nominal gaji kita itu besar tetapi yang menjadi rizki yang berkah untuk kita dan keluarga belum tentu sebesar nominal itu. Tidakkah kita berpikir, bukankah gajin kita itu walaupun beda golongan dan tunjangan, tetapi nominal tidak begitu jauh berbeda. Tetapi mengapa kehidupann kita berbeda-beda? Itulah Rahasia Illahi. Ada yang golongan rendah tetapi hidupnya berkah, bisa membeli kendaraan dan rumah, tetapi ada juga yang rumah terus menjadi “kontraktor” alias masih kontrak. Ada yang selalu kesulitan uang padahal tiap bulan mnerima gaji?

Itulah yang seharusnya menjadi renungan kita, mari kita intropeksi diri berkaca adakah yang salah dalam pekerjaan kita? Aapakah kita tidak Ikhlas? Apakah kita Tidak Profesional? Aapakh kita sering menzolimi pekerjaan kita?apakah kita sering mengurangi kewajiban-kewajiban yang seharusnya ditunaikan sebagai seorang guru? Bukankah kita mempunyai tugas merncanakan pembelajaran,melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi pembelajaran dan membimbing dan melatih, serta tugas tambahan lainya yang melekat sebagai seorang guru.Apakah kita belum melaksanakan sebagian dari tugas-tugas tersebut. Perlu kita renungkan kalau kita mengurangi tugas-tugas tadi jangan heran kalau gaji kita juga berkurang sesuai dengan kadar ketidakberesan kita dalam menjalankan tugas.

Jawaban-jawaban dari renungan itu tentu akan saya kembalikan semua ke kita, karena itu tidak perlu jawaban kata-kata tetapi adalah perubahan paradikma berpikir dan bertindak kita yang harus direformasi total. Bedrikut tips agar kita nyaman senang dan penuh berkah dalam pekerjaan kita:

1.      Hadirkan Perasaaan IKHLAS

Hati yang ikhlas akan meringankan beban-beban tugas yang kita kerjakan, bahkan dengan Ikhlas kita bisa menjadikan kewajiban daan beban menjadi sebuah kebutuhan yang menyenangkan. Seorang yang mengajarkan ilmu dengan ikhlas bukankah akan di beri sholawat oleh Allah SWT, para malaikat. Orang yang mengajarkan ilmu, akan menjadi investasi jangka panjang yang tak ternilai hargannya. Yang berhati ikhlas yang berat tersa ringan dan yang suli terasa mudah. Yang lebih penting lagi kalau kita ikhlas maka rizki yang kita hasilkan dari pekerjaan kita akan mendatangkan berkah-berkah yang banyak. Kalau menjadi darah dan daging kita dan anak-anak kita maka nilai keikhlasan itupun akan memberkahi keluarga kita.

2.      Menikmati Pekerjaan

Kita harus mencintai pekerjaan kita, jangan hanya bangga sebagai PNS atau sebagai Guru yang mempuanyai tempat social di masyarakat, tetapi hanya menjalankan tugas yang kita artikan sebagai beban dan tanggung jawab saja. Marilah kita jadikan pekerjaan kita itu sebuah kenikmatan batin, sebuah rekrteasi rohani yang mendatangkan ketentraman jiwa. Orang yang mencintai pekerjaannya akan menjadikan kita professional. Bukankah kita sebagai guru merasa senang dengan bertemu dengan berbagai karakter manusia yang ada di siswa-siswa kita, mereka itulah yang akan kita arahkan menuju manusia sutuhnya. Maka kalau kita melakukan ini dengan senang hati, bisa dipastikan nikmatnya hati, tentramnnya jiwa akan kita peroleh.

3.      Biasakan menyelipkan Nasihat

Kalau kita memberi nasihat sebenarnya pada hakikatnya kita juga memberi nasihat diri kita sendiri. Maka kita rutinkan misalnya kita selipkan 5 menit untuk memberi nasihat kalau dikalikan 4 hari saja misalnya kita mengajar maka sudah empat nasihat kalau dikalikan 4 minggu kalau kita kalikan 1 tahun. Maka betapa banyak transfer nilai yang kita lakukan. Kita juga harus  berkeyakinan bahwa nasihat kita itu belum tentu dilakasanakan sekarang oleh siswa kita. Tetapi bisa jadi besuk,lusa,minggu depan bulan atau tahun depan bahkan lebih dari itu. Nasihat yang kita berikan kepada siswa kita itu baru mereka rasakan jika kelak mereka menemukan kebuntuhan dan menghadapi kehidupan maka pasati mereka akan ingat nasihat-nasihat kita.

4.      Menjadi Teladan

Kalau guru kencing berdiri maka murid kencing berlari, itulah pepatah popular kita yang menggambarkan betapa pentingnya sebuah keteladanan. Misalnya kita memberi nasihat agar kita membuang samapah pada tempatnya, tapi kalau kita memberi contoh membuang sampah tidak pada tempanya maka yang akan ditirukan adalah tingkah laku kita walaupun kita memberi seribu nasihat. Segudang kata-kata akan dikalahkan oleh sebuah keteladanan. Kita harus ingat seluruh tingkah laku,kata yang terucap dari kita akan menjadi perhatian siswa kita dan tanpa terasa mereka akan meniru secara otomatis apalagi anak usia Sekolah Dasar. Maka kita harus menjadikan performa kepribadian kita itu selalu istimewa di depan siswa kita.

               Demikian semoga menjadi bahan renungan kita, Kalau kemarin kita belum bisa berbuat yang terbaik bukankah masih ada hari sekarang dan esok untuk memperbaiki. Kita mulai dari sekarang, kita mulai dari diri kita, kita mulai dari yang kecil, Kita reformasi paradigma berpikir dan bertindak kita.  

Baleharjo, 21 Maret 2011


Komentar

Postingan populer dari blog ini

D-Administrasi

NOTULEN KKKS Kec. Pacitan, 05-08-25